Minggu, 02 Mei 2010

Melepaskan Diri Dari Gurita IMF
Oleh: Endrizal
Pemerintahan Indonesia memang diwarisi berbagai persoalan masa lalu yang mengakibatkan berbagai kendala dan kompleksitas dalam pembuatan kebijakan public. Bahkan karena krisis yang telah melumpuhkan stabilitas ekonomi, telah memaksa Indonesia untuk mengundang institusi multilateral seperti IMF untuk menanggulanginya. 
Ketika perekonomian Indonesia semakin amburadul maka, ketika itulah pihak-pihak asing memainkan perannya. Mereka mencoba mamasukkan agenda-agenda mereka untuk menjerat Indonesia kedalam lubang hitam utang luar negeri. Tidak bisa dipungkiri bahwa IMF ikut andil dalam menciptakan kemiskinan di Indonesia. Di samping itu, kita juga tidak bisa menafikan peran IMF dalam membantu Bangsa Indonesia untuk melepaskan diri dari jeratan krisis ekonomi yang berkepanjangan dengan menyuntikkan dana mentahnya kepada Indonesia. 
Indonesia sekarang ini tidak lebih dari sekedar ladang subur perburuan para kapitalis global yang siap menyergap asset kekayaan di dalamnya, termasuk asset nasional. Sebab, ketika Indonesia telah mempergunakan jasa IMF maka secara tidak langsung, kebijakan-kebijakan perekonomian bangsa Indonesia akan banyak dipengaruhi oleh IMF. Setiap kebijakan perekonomian yang diambil hampir selalu mempertimbangkan kepentingan pihak IMF bukan lagi mempertimbangkan nasib rakyat dan bangsa.
Kalau kita menarik persoalan ini kedalam dataran ekonomi, seperti yang disinyalir oleh IMF (Dana Moneter Internasional) ketika melakukan rapat tahunan di Singapura baru-baru ini. Bahwa, Indonesia dalam berbagai sector, terlebih lagi dalam sector kemajuan perekonomian jauh tertinggal dari Negara-negara lainnya. Kalau di kalkulasikan, Indonesia berada pada urutan ke-tiga dari bawah, dari 33 negara peserta. Sebuah prestasi yang sangat mengagumkan sekaligus menampar wajah para elit pemerintahan kita didalam ketidak becusan dalam menyelesaikan persoalan bangsa yang semakin hari semakin mendesak untuk selesaikan.
Selama ini kinerja dan peran IMF untuk menunjang kemajuan perekonomian Indonesia sangatlah minim sekali. Di samping itu, selain menciptakan kemiskinan dan utang luar negeri yang semakin membengkak, IMF juga berperan besar dalam menciptakan krisis moralitas para elit pemerintahan kita, dalam mengelola bantuan pinjaman dana tersebut. Sebab, budaya KKN sampai sekarang masih menjadi ideology bagi sebagian para pengambil kebijakan. 
Mungkin tidak terlalu berlebihan kalau kita mengatakan bahwa, perkembangan perekonomian Indonesia masih mengalami pasang surut, dibawah ketidak pastian dan kegoyahan yang sewaktu-waktu akan ambruk seiring dengan berjalannya waktu. Berbagai ketidak jelasan dan ketidak konsistenan dalam kebijakan, ketidak pastian politik, terus maraknya tindak kekerasan, serta lemahnya leadership dan penegakan hukum, terbukti sangat kontra produktif terhadap proses pumulihan ekonomi.
Hal ini bisa kita lihat dengan terus terpuruknya tingkat kepercayaan masyarakat, mandeknya investor, masih terjadinya capital flight, tertinggalnya Indonesia dalam pemulihan, terus melemahnya rupiah dan indek harga saham bursa efek, serta tidak adanya perbaikan-perbaikan dalam kondisi structural perekonomian. Praktis, perekonomianpun tidak tertata, pengangguran makin hari makin meningkat, kriminalitas menjadi-jadi.
Melepaskan Diri Dari IMF
Melepaskan diri dari IMF bagi Indonesia memang suatu pilihan yang sangat sulit sekali, sebab, selama ini bangsa kita selalu di manjakan oleh IMF dengan bantuan-bantuan dana mentahnya, hal inilah yang membuat Indonesia gamang dan gagab dalam mengarungi dan menghadapi persaingan perekonomian di kancah internasional. Sebab, sikap manja dan kebergantungan terhadap IMF tersebut telah membuat Indonesia mengalami kemandegan dalam menciptakan sebuah asset (modal) yang dapat menutupi ketergantungan terhadap bantuan IMF berupa suntikan dana mentah.
Meminjam bahasanya De Soto Factor kegagalan kapitalisme (perekonomian) di dunia ketiga lebih banyak dipengaruhi oleh ketidak mampuan dunia ketiga dalam menghasilkan capital. Capital adalah sebuah kekuatan yang memunculkan produktivitas kerja dan mengahasilkan kemakmuran bagi bangsa (De Soto: 2000).
Bangsa Indonesia telah gagal dalam menciptakan kapital-kapital untuk memajukan perekonomian bangsa. Seperti yang disinggung sebelumnya, bahwa bangsa Indonesia lebih cenderung memanfaatkan bantuan IMF dari pada menciptakan modal untuk mengembangkan perekonomian bangsa. Intensitas kebergantungan kita terhadap IMF sangatlah tinggi sekali, sehingga membuat kita lupa bahwa kita mempunyai potensi yang sangat besar sekali untuk menciptakan modal untuk menopang kemajuan perekonomian bangsa.
Mungkin kita harus berani mengakui ketangguhan system perekonomian Negara serumpun Malaysia. Perekonomian Malaysia pada tahun 60-an berada jauh di bawah Indonesia, tapi sekarang perekonomian Malaysia jauh di atas Indonesia. Hal ini di sebabkan oleh adanya ketegasan pemerintahan Malaysia untuk menolak tawaran yang diberikan oleh IMF untuk membantu pembangunan perekonomian negaranya. Pemerintahan Malaysia lebih senang menjalin kerja sama dengan Negara-negara tetangga yang sama-sama mempunyai kepentingan dan sama-sama menguntungkan. Hal ini tentu saja beda jauh dari Indonesia. Bangsa kita lebih bangga menggunakan bantuan IMF dari pada memanfaatkan asset-aset yang dimiliki oleh bangsa sendiri. Negara yang terkenal dengan kemakmuran dan kekayaan alamnya yang berlimpah-ruah terbuang dengan sia-sia, tanpa adanya perubahan bagi nasib rakyatnya.
Mungkin ini juga kesalahan bangsa kita dalam memamahi modal (capital) itu sendiri. Selama ini kita telah salah dalam memahami capital, kita lebih cendrung mengidentikkan capital dengan persoalan uang. Sebenarnya itu adalah kesalahan besar, ketika mengatakan bahwa uang adalah bentuk terakhir dari capital. Seperti yang diungkapkan oleh Smith bahwa uang adalah “roda besar sirkulasi”, tapi ia bukan capital karena nilai “tidak pernah terkandung dalam potongan-potongan logam tersebut.
Capital (modal) pada dasarnya tidak bersifat material, karena bukan masalah, hal apa yang menciptakan capital tersebut, tapi nilai yang terkandung dalam hal itu sendiri, dan nilai tidak berkaitan dengan kondisi fisik dari hal tersebut. Dalam hal ini, untuk mengolah capital-capital tersebut agar menjadi berguna dan mempunyai nilai bagi kehidupan orang banyak, maka diperlukan sekali kejelian pengelolanya untuk melihat potensi-potensi yang terkandung dalam asset-aset capital tersebut. Sebab, kalau kita jeli dalam melihat potensi yang terkandung dalam asset-aset yang kita miliki, kita akan mengetahui dan dapat memperkirakan potensi apa saja yang dapat dikembangkan darinya, tanpa harus bergantung kepada IMF.

Perekonomian Indonesia Di Era Transisi
Oleh: Endrizal
Sunguh pilu dan menyedihkan kalau kita melihat nasib dan perkembangan perekonomian bangsa Indonesia sekarang ini. Mulai dari masalah tingginya angka pengangguran, membludaknya angka kemiskinan, serta meningkatnya angka kriminalitas di tengah pergolakan politik yang tidak jelas.
Seiring dengan fakta yang kita temui dilapangan, akhir-akhir ini suseknas dengan gencar mengatakan bahwa angka kemiskinan di Indonesia sekarang ini cenderung menurun di bandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Namun, tentunya semua data yang di kemukakan tersebut tidak harus kita telan mentah-menatah tanpa mencoba untuk mengeksplorasi dan menginterpresentasikannya secara arif dan bijaksana. Sebab, pada dasarnya sederetan data yang diungkapkan tersebut tidak tertutup kemungkinan adanya sejumlah latar-belakang, bahkan “misteri”, yang secara mutlak harus kita curigai, sekaligus mempelajarinya, untuk kita ungkapkan. 
Kalau kita mencoba untuk merunut sejarah, bahwa Indonesia secara geografis, telah merdeka semenjak 62 tahun silam, tapi, secara ekonomi dan politik Indonesia belum bisa dikatakan Negara yang merdeka. Penjajahan yang dilakukan oleh bangsa Barat terhadap Indonesia sekarang ini telah mengalami pergeseran. Pada awalnya penjajahan yang di lakukan bangsa barat lebih bersifat benturan fisik dan mengokang senjata. Tapi sekarang, penjajahan yang dilakukan oleh bangsa Barat telah dimodifikasi sedemikian rupa. Tanpa kita sadari, bangsa Barat menjajah Indonesia dengan cara memasukkan budaya Barat kedalam sendi-sendi kultur Indonesia. Penjajahan sekarang ini lebih dikenal dengan istilah “Poskolonialisme”. Bangsa Barat mencoba menjajah Indonesia dengan cara memaksa rakyat Indonesia mengkonsumsi kebudayaan yang di produk oleh Barat tersebut. Ironisnya bangsa kita terlambat mengetahui hal itu. Bangsa kita seakan bangga, ketika kita berkiblat kepada bangsa Barat. Apapun yang disodorkan oleh bangsa Barat, langsung ditelan mentah-mentah, tanpa melalui seleksi dan pertimbangan yang matang. Seakan bangsa kita tidak mau ambil pusing, apakah produk yang dikeluarkan bangsa Barat tersebut bertentangan dengan norma dan kultur bangsa Indonesia.
Penjajahan di Bidang Ekonomi
Penjajahan yang dilakukan negara maju bukan hanya pada ranah social, budaya, dan pendidikan. Tapi, penjajahan tersebut telah menjalar keberbagai sector vital di Indonesia, tanpa terkercuali pada sector ekonomi.
Perekonomian bangsa Indonesia dewasa ini sudah babak belur. Angka kemiskinan dari hari ke hari semakin meningkat, pengangguran semakin menjadi-jadi, sedangkan pertumbuhan ekonomi tidak mengalami peningkatan sama sekali.
Sekarang ini, para pengambil kebijakan lebih cenderung menggadaikan asset bangsa. Sekaligus menggantungkan nasib bangsa kepada bantuan luar negeri seperti, IMF dan Bank dunia dari pada mengoptimalkan kekayaan alam Indonesia. Baik kekayaan alam yang bersumber dari air, udara dan daratan. Tanpa kita sadari, selama ini intensitas kebergantungan kita terhadap IMF sangatlah tinggi sekali. Dengan dalih bantuan, IMF mengucurkan dananya ke Indonesia. Pemberian utang oleh IMF jelas bukan bantuan. Utang diberikan dengan rekomendasi pembangunan ekonomi ala IMF. Utang diberikan dengan catatan-catatan pesanan IMF. Proyek-proyek yang harus dilakukan ditentukan pihak asing. Kemudian mesin-mesin canggih harus dibeli dari negara maju.
Tanpa kita sadari, bangsa Indonesia telah terjerat utang yang entah sampai kapan bisa untuk dilunasi. Dengan menumpuknya utang kepada bangsa Barat, maka mau tidak mau, kebijakan ekonomi terpaksa mengikuti aturan negara Barat, penjualan aset-aset negara mulai dilakukan. Mulai dari penjualan satelit Palapa, penguasaan PT. Freeport oleh pihak asing, sampai kepada Blok Cepu. Sedih rasanya, melihat kemerdekaan Republik Indonesia saat ini.
Negara-negara maju membuat IMF dan Bank dunia jelas bertujuan untuk menguntungkan mereka. Jadi, kalau kita mengikuti aturan main Negara-negara maju, dengan masih menggunakan fasilitas IMF dan Bank Dunia, itu berarti kita telah masuk kedalam perangkap-perangkap negara-negara maju. Sekaligus mustahil bagi kita untuk bisa melepaskan diri dari jeratan utang yang dibikin oleh Negara-negara maju tersebut. IMF dan Bank dunia yang di prakarsai oleh Negara maju, ibarat madu beracun yang bisa membunuh siapa saja yang meminumnya, berupa jeratan utang luar negerinya. Sedangkan yang menjadi korban empuknya adalah Negara-negara berkembang, tanpa terkecuali Indonesia.
Mengambil Sikap
Sekarang ini, sudah seharusnya para elit politik dan para ekonom kita melepaskan diri dari penjajahan ekonomi yang dilakukan oleh Negara-negara maju tersebut. Jangan sampai kebijakan yang diambil hanya mementingkan kelompok dan golongon tertentu saja. Kekayaan alam yang melimpah, yang seharusnya diperuntukkan untuk segenap rakyat Indonesia malah digadaikan dan di eksploitasi, demi kepentingan segelintir orang saja.
Negara Indonesia didirikan untuk kepentingan segenap bangsa Indonesia, untuk seluruh tumpah darah Indonesia. Perekonomian disusun berdasarkan usaha bersama untuk kepentingan bersama yaitu seluruh rakyat Indonesia, bukan kepentingan orang-seorang maupun kepentingan sekelompok kecil elite politik saja.
Cita-cita proklamasi kemerdekaan RI untuk mewujudkan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, menjadi pudar dan berganti menjadi kemiskinan dan kelaparan yang meraja-lela di seantero pelosok negeri ini.
Sekarang ini, untuk melepaskan diri dari jeratan utang luar negeri yang merupakan bentuk baru penjajahan bangsa Barat, sudah seharusnya para pengambil kebijakan memberdayakan kembali perekonomian rakyat kecil. Sudah seharusnya kita menjadi bangsa yang merdeka dan mandiri dari segala bidang. Pertumbuhan dan kemajuan perekonomian bangsa kita tidak seharusnya lagi bergantung kepada bangsa maju dengan cara menumpuk utang untuk modal pembangaunan dan pertumbuhan ekonomi.
Memang sangat mustahil perekonomian sebuah bangsa akan maju tanpa adanya modal (kapital). Tapi, capital tidak mesti selalu diartikan dengan uang. Selama ini, kita telah salah dalam memahami capital, kita lebih cendrung mengidentikkan capital dengan persoalan uang. Sebenarnya itu adalah kesalahan besar ketika mengatakan bahwa uang adalah bentuk terakhir dari capital. Seperti yang diungkapkan oleh Smith bahwa uang adalah “roda besar sirkulasi”, tapi ia bukan capital, karena nilai “tidak pernah terkandung dalam potongan-potongan logam tersebut. Tapi, capital lebih berbentuk material.